SANGSAKALA PAJAJARAN

KAWUNG MABUR CARULUKNA
Enau Kehilangan Buahnya
GULA LEUNGITEUN GANDUAN
Gula Kehilangan Cirinya
CIAMIS KARI PAITNA
Air Manis Tinggal Pahitnya
CIHERANG KANTUN KIRUHNA
Air Bening Tinggal Keruhnya
SAMAK TINGGALEUN PANDANNA
Tikar ditinggalkan Pandannya
KIAI LEUNGITEUN AJI
Kyai Kehilangan Kemakbulannya
PANDITA ILANG KOMARA
Pemimpin Formal Kehilangan Wibawa
KAHURUAN KU NAPSUNA
Terbakar oleh Nafsunya

Makna yang ada dalam syair tersebut di atas, mecontohkan bahwa para leluhur Sunda sangat mewanti-wanti agar seluruh wilayah kabuyutan di Tatar Sunda harus dilindungi, dipelihara, dijaga kelestariannya agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan dan kemakmuran hidup bersama. Selain itu dikatakan pula dalam salah satu ajaran lama Sunda bahwa barang siapa yang tidak mampu menjaga dan mempertahankan kabuyutan ia lebih hina dibanding kulit musang (B. Sunda: lasun) yang tercampak di tempat sampah. Bahkan dalam prasasti peninggalan Prabu Siliwangi disebutkan pula bahwa barang siapa yang merusak kabuyutan yang telah beliau tetapkan maka ia harus dibunuh. Pesan-pesan leluhur-leluhur Sunda yang sangat dihormati tersebut menunjukkan nilai tinggi dan strategis dari kabuyutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s